Thursday, 1 April 2021

MENYAPA KADJA, CAFE DENGAN KONSEP PLANTSHOUSE DAN FLORIST DI SURAKARTA



8 Maret 2020, traveling terakhir sebelum datangnya pandemi yang tidak disangka-sangka. Kadja Coffee and eatery, plantshouse and florist menjadi salah satu tujuan untuk berteduh siang hari di Surakarta. Ditengok dari akun sosial medianya Kadja memiliki arti sebuah ajakan singkat melakukan apapun dengan energi positif. Dikatakan saat matahari bersinar cerah maupun ketika mendung menyapa. Hari itu cuaca Surakarta sedang panas-panasnya dan tiba-tiba turun hujan, lalu kadja menyapa sesuai dengan maknanya. 

Saya pergi kesana dengan bantuan traveloka yang memberikan rekomendasi dan pastinya abang gojek yang mengantar saya kesana. Alamat Kadja coffee berada di Jalan Moh. Husni Thamrin No.17 Manahan, Banjarsari. Surakarta. 

Pojok Kadja 

Beberapa pojok Kadja yang saya potret karena terlihat unik dan menarik berisi deretan bucket bunga kering ketika kita menyapa kasir untuk order makanan dan minuman. Kemudian konsep planthouse ketika berada diluar ruangan. Ternyata kita juga bisa beli tanaman seperti kaktus di Kadja. 



FLORIST


Tidak hanya itu, kita juga bisa order bucket bunga disini. Ada outlet kecil didalam Kadja yang khusus menyediakan bucket bunga seusai dengan request yang kamu inginkan. 

MENU KADJA


 
Karena sedang hujan saya order Mie Jawa kuah dan milk regal ice siang itu. Price menu di Kadja start dari 14,000. Selain ada Mie, menu makanan kadja termasuk variatif karena menyediakan ricebowl, spagetti dan snack. Soal minuman, tenang Kadja juga menyediakan berbagai jenis kopi dan teh. 



Pulang dari sini, tentu mampir ke warung tengkleng dan tongseng di Surakarta sebelum balik ke stasiun. Semoga masih ada kesempatan untuk kuliner di Surakarta lagi karena jujur saja vibe dari kota satu ini susah untuk dilupakan. 

Thursday, 10 December 2020

CERPEN : SEBUAH KEJUJURAN

Aku ingin mengucapkan selamat sebab akhirnya paket ini datang. Datang setelah adanya puluhan pemikiran dan banyak keyakinan, yakin saja jika akan diterima dengan baik. Isinya mungkin saja sebagai bentuk dari banyak hal yang tak bisa dilupakan.

Penjaga ingatan mungkin saja kali ini tertawa melihat diriku terlalu bekerja keras untuk menghapus banyak file kenangan yang jelas-jelas selalu saja error saat dihapus. “ Di dunia ini kamu hanyalah sebagai user, sudah ikuti saja apa kata pemiliknya” Begitu katanya.

Bagaimana mungkin aku selalu teringat jika aku tidak menyukai pelajaran kesenian tempel menempel lalu aku ceritakan kepadanya tapi ternyata ia malah sebaliknya. Bahkan wajahnya yang berminyak saja bisa aku ingat, malam itu ia datang ke indomaret membeli facial wash yang sudah aku rekomendasikan. Hal sederhana begitu saja bisa membuatku terkekeh.

Mungkin saja aku terlalu lebay kali ini. Aku masuk ke sardo lantai tiga. Aku ingat-ingat lagi, dia lebih menyukai makan dengan sendok plastik supaya sekali pakai langsung bisa dibuang. Aku ambilah satu pack untuknya tapi “Ah .. ini mah gak mendukung ia jadi lebih baik,  nanti akhirnya jadi sampah juga” lalu lekas aku kembalikan satu pack sendok plastik itu di rak awalnya.

Suatu hari aku juga pernah keliling bazar buku, alih – alih ingin membeli buku untukku. Aku malah mengambil buku untuknya lalu membolak balikan isinya “ Buku apaan nih ada astronomi-astronominya” yaa kali nih orang bakal baca. Gpp beli saja buat nambah vocabulary dipikirannya sekalian menggantikan aku di hari-hari english daynya .

Kurang lebih begitulah yang aku pikirkan hingga akhirnya satu paket datang ke penerimanya. Ternyata benar juga kata mbah sudjiwo tejo jika berjuang nggak sebercanda itu, benar-benar aku pikir. Bahkan aku sudah siap dengan kemungkinan penerimanya akan ilfeel tetapi beginilah diriku yang nglakuin apa – apa mikirnya semikir itu.

Dulu juga aku pernah kecewa karena merasa tidak begitu diutamakan olehnya tetapi aku juga sadar ternyata ia lebih kecewa karena aku memilih menghilang saat di titik terendahnya.  Kali ini aku benar-benar dibuat sadar aku belum pernah berjuang dan melakukan sesuatu senothing to lose ini untuknya.

Jika dihubungan ini ia merasa insecure, sejujurnya aku malah lebih insecure dengan takdir atau nasibku sendiri sejak Bapak berpulang belasan tahun lalu. Sejak moment kehilangan aku lebih suka menulis karena orang lain tidak perlu melihat diriku yang mudah tersentuh dan menangis. Kadang aku menebak ia sudah bosan membaca email dariku yang terlalu panjang, kalau pun dibicarakan secara langsung mungkin saja aku jadi tidak jujur karena selain takut menangis, aku juga takut terlihat paling lemah. 

Kali ini aku menulis bagaimana sejujurnya diriku bukan untuk mendapatkan rasa simpati namun untuk jujur jika kejujuranku kalah jauh darinya, ia lebih jujur menceritakan momen kehilangan tanpa harus aku tanya. Pede sekali saat itu aku pikir bisa melindungi dirinya, nyatanya aku lebih lemah bahkan belum berjuang apa-apa saja aku sudah takut kehilangan dan kecewa. 

Jika saja ia tahu, aku baru berani menulis ini sekarang ketika aku baru saja selesai dengan diriku sendiri setidaknya kalau pun aku ditolak kita sudah sama-sama sarjana, malunya gak bakal malu-malu amat haha. Pernah waktu itu aku berpikir aku ingin membuktikan jika aku beda dengan seseorang di masa lalunya atau mungkin dengan yang sekarang ada disampingnya, tapi ya buat apa ? karena apapun yang ku selesaikan memang untuk perbaikan dalam diriku sendiri bukan untuk pembuktian kepada siapa-siapa.  

Apa pula ini aku menulis surat kejujuranku yang sudah jelas tidak pernah ku lakukan pada lelaki lainnya kecuali surat ijin tidak masuk sekolah atau kerja. Tetapi demi dia, aku lupa kata gengsi. Kata teman-temanku tak apalah biar pernah. hehe

Apa mungkin aku bisa jadi bagian ceritanya lagi setelah puluhan chat dan misscall yang tak terbalas sudah cukup mengganggu dunianya. 

“Bolehkah kamu mengijinkan aku untuk sekali lagi membuat kamu percaya jika aku benar-benar ingin menjadi bagian dari hari – harimu ? beriringan denganmu, menjadi rumah dan tempat pulang saat bahagia atau  pun saat dunia kita sedang tidak baik-baik saja.” Aku butuh jawaban sebagai closure dari cerita pendek ini.

Karena jika jawabannya tidak diijinkan maka aku akan sadar ternyata cerita ini hanya ada satu orang yang berjuang. Jika jawabannya diijinkan olehmu berarti selama ini intuisiku sudah berjalan ke arah yang benar.

Friday, 7 August 2020

January : Thailand Trip Sebelum Covid19




Back in a while. I never imagine if flight will stop in 2020. There is no trip and travel this year but i just lucky could finish a trip. Yeah ! My bucket list already check list at 11 January 2020. Here my stories before covid19. 

Hello, after done quarantine. Welcome at new normal life.
Cerita perjalanan kali ini tepat 6 bulan lalu dimana semua berjalan dengan normal tanpa hambatan dan pengecekan bandara yang ketat seperti saat ini. 

Sebelum berangkat ke thailand, in factnya aku sudah booking tiket pesawat bulan juni di tahun 2019. Jauh juga ya antara berangkat dan bookingnya :D 

Maklum, karena semua serba minim budget akhirnya booking jauh - jauh hari. Aku dapet tiket 2,400K Pergi ( Air Asia ) - Pulang ( Scoot ) ( Surabaya - Malaysia ( Transit ) - Thailand / Thailand - Singapore ( Transit ) - Surabaya ), kurang lebih begitu rutenya. Dari beberapa thread yang aku baca di twitter harga tiket segitu masih banyak yang lebih murah but worth it for taken karena aku berangkat dari Surabaya.

11 January 2020
Berangkat dari Juanda Internasional Airport Terminal 2 pukul 05.00 WIB aku putuskan berangkat tengah malam dari terminal Arjosari Malang, sambil menunggu pagi aku makan-ngopi dulu di MCD. Baru sadar ternyata susah juga pindah dari daerah Surabaya, kemana - mananya perlu perjuangan  apalagi kalau masih jomblo gini. Waaah sedapnya perjalanan kerasa banget capek (sendirian) nya. *lah

Tapi jujur hal-hal kayak gini yang paling dikangenin dari perjalanan. Pas lagi sendirian, kita bertanggung jawab penuh untuk diri kita sendiri terus cari - cari kesibukan sambil nunggu waktu keberangkatan ntah dihabisin baca buku, browsing berita, baca review tempat wisata yang mau dikunjungin atau makan sekenyang-kenyangnya. Terpenting tempatnya memang aman buat sendirian. 

Tempat pertama aku kunjungi setelah landing di Bandara Don Mueng Bangkok adalah sebuah market yang pastinya terkenal banget di Bangkok. Yeah one and only is cathucak market, asli ini gak ada di itinerary karena aku sebenarnya cuma masukin list khao sand market yang paling dekat dengan homestay dan hanya perlu jalan kaki aja tetapi karena dekat bandara dan sudah menerima ajakan temen akhirnya kesini juga, lumayan lihat keramaian Bangkok.

Di cathucak pun gak beli apa - apa, cuma ngadem aja beli rujak mangga. Hari pertama belum kepikiran buat beli oleh - oleh karena belum menemukan excitednya belanja hahaha. Jadi buat pelajaran aja , kalau ke pasar atau belanja tuh di hari terakhir kamu liburan kecuali kamu emang punya niat liburan sambil buka jastip. Nah cathucak market ini menurutku hampir mirip CFD, bisa jadi pilihan kamu untuk belanja di Bangkok karena harganya relatif terjangkau. Hampir sama aja si kayak harga oleh - oleh di Indonesia tapi lumayan barangnya lucu-lucu juga. 

12 January 2020

Pagi - pagi kita sudah jalan kaki di sekitar homestay menuju Wat Pho. Awalnya masih tutup karena masih ada upacara tetapi kita tungguin dulu di cafe dekat Wat Pho sampai buka :D
Depan jalanan ini kalau siang sampai  malam itu jadi Khao Sand market yang ramai banget. 

Nah pulang keliling dari Wat Pho dan jalan kaki muterin Bangkok. Malamnya kita coba kulineran di Khao sand market karena deket banget paling juga cuma 10 meter dari homestay.

Wat Pho Temple Bangkok
Wat Pho Temple Bangkok

Di khao sand market kita bisa lihat makanan ekstrim kalajengking goreng yang terkenal di Bangkok , aku nggak nyoba karena penampakannya nakutin dan geli aja liatnya bahkan nggak gefoto juga karena harus bayar 10 bath kalau mau foto aja. Everything is business yaa haha 

Btw kita menginap di Homestay Guest House Khao Sand just 300K for 2 Night. Jadi ya murah banget karena kemana - mananya selain deket ke Khao Sand market juga dekat dengan temple-temple di Bangkok. Tempatnya bersih dan nyaman, yang paling berkesan ownernya ngasih catatan di kertas dengan tulisan tagalog buat kita pergi ke tempat wisata tujuan. Kertas itu tinggal kasih aja ke taksi yang nganterin jadi bikin argonya nggak mahal. Baik banget kan :D

13 January 2020 
Hari selanjutnya kita coba jalan - jalan ke Wat Arun berbekal google map dan petunjuk temen tetapi akhirnya kertas tulisan petunjuk dari owner homestay lebih simple banget sih, kita langsung aja kasih kertasnya ke driver taksi, langsung deh kita diantar ke tempat penyebrangan perahu menuju Wat Arun temple di Tien-tien market. 

Nih bangunan Wat Arun super gede banget mirip candi prambanan, kamu juga bisa naik - naik  ke atas. Tiket masuknya 50 bath tetapi dari depan aja kalian sudah bisa kok ngliatin candi ini dan foto - foto didepannya. 
Pulang dari Wat Arun kita jalan kaki keliling sekitar pasar tien-tien cari oleh - oleh karena dekat dan banyak yang jual apalagi harganya juga lumayan murah. Yang paling aku ingat beli pengharum ruangan sekitar 6 pcs karena emang wangi dan bentuknya unik. Ada bentuk bunga, kelapa, lemon, semangka dan masih banyak lagi. Selebihnya kita nikmatin jalan di bangkok aja sambil kulineran di Jalan. 

Meskipun liburan di Bangkok kali ini banyak yang keluar dari itinerary but it's okay karena dimana-mana yang namanya traveling pasti ada miss dan melencengnya tapi disitu letak keseruan dan kekesalannya dicampur jadi satu. hwaa sekian, intinya kangen liburan dan kudu bersabar nunggu situasi normal. 

Kalau mau berpergian, sabar dulu. Tunggu pandemi berakhir atau terapin protokol kesehatan sebaik mungkin. Yok bisa yok !