Wednesday, 30 October 2019

Generasi Milenial Berdaya dengan Peningkatan Fungsi Koperasi di Desa

Dyah ayu Penanggung Jawab Simpan Pinjam Koperasi Wahidyah Desa Purwoasri Kab. Kediri

Sejak 2 tahun lalu teman saya Dyah Ayu sudah bergelut dalam kegiatan koperasi. Ia besama teman-teman pemuda lainnya diberikan amanah untuk menjadi pengurus koperasi wahidyah di Desa Puwoasri Kabupaten Kediri. Teman-teman saya patut diacungi jempol karena selepas kuliah tidak meninggalkan Desa untuk merantau sehingga tenaga dan keahlian mereka sebagai generasi milenial sangat membantu dalam koperasi zaman now. 

Tak dapat dipungkiri koperasi berperan penting dalam pembangunan Desa, koperasi juga memiliki peran krusial bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa karena seperti kita ketahui jika masyarakat desa memiliki tingkat kesejahtreaan yang masih kalah dibanding masyarakat kota sehingga koperasi diperlukan agar masyarakat dapat bergotong royong dan saling membantu dalam peningkatan ekonomi dan kesejahteraan bersama.

"Dengan tujuan koperasi dalam pembangunan Desa yang sangat baik tersebut. Apakah koperasi di Desa kami tidak pernah mengalami masalah ?"
Awalnya koperasi di Desa Purwoasri ini seperti suram dan tidak ada harapan untuk dilanjutkan. Waktu itu kami sebagai remaja masjid sering mendengar desas-desus permasalahan koperasi dari warga dan jamaah yang bergabung. Permasalahan dari tahun ke tahun tetaplah sama, berawal dari lemahnya sistem, kurangnya pelatihan dan keahlian pengurus dalam pengelolaan keuangan dan daftar anggota yang tidak jelas.

Simpan pinjam merupakan produk andalan dari koperasi kami yang awalnya bertujuan untuk gotong royong berubah menjadi momok menakutkan sama halnya dengan rentenir dan Bank Pengkreditan Rakyat yang memberikan bunga tidak masuk akal hingga banyak warga desa yang terjebak utang dan kehilangan rumahnya karena minimnya pengetahuan mereka akan bunga pinjaman. 

Permasalahan lainnya, karena belum ada sistem dan aturan yang jelas sehingga terdapat banyak warga bukan anggota koperasi namun ikut melakukan pinjaman. Hasilnya hingga saat ini pun modal sekitar 12 juta rupiah masih tertahan di warga yang bukan anggota koperasi dan tidak bisa melunasi utang tersebut. Akhirnya  teman-teman saya memiliki inisiatif bergabung dalam anggota koperasi dan ikut berbenah dari awal hingga tercipta koperasi desa dengan sistem simpan pinjam yang jelas dan disiplin. 

Pemuda Desa sebagai generasi milenial pun ikut berdaya di koperasi wahidyah melalui keahlian yang dimiliki serta peran pondok pesantren kedunglo tempat kami mengaji dalam memberikan pelatihan dan menyediakan pameran expo setiap 6 bulan sekali untuk produk unggulan koperasi dari tiap jamaah diseluruh Indonesia.





"Apa saja perubahan yang teman-teman saya lakukan?"

Pertama, dimulai dari membenahi Sumber Daya Manusia. Terdapat penanggung jawab dan pengurus untuk setiap layanan koperasi seperti simpan pinjam, arisan dan dagang sehingga pencatatan keuangan masuk dan keluar bisa dilihat dan diperiksa dengan mudah. Ada pula pengurus yang bertanggung jawab dalam mensosialisakan layanan dan manfaat dari koperasi serta menjadi mediator untuk aduan para anggota yang menghadapi masalah simpan pinjam. Terdapat jadwal setiap bulannya untuk rapat pertemuan pengurus dan anggota koperasi sehingga permasalahan dan inovasi dapat disampaikan secara langsung. Penggunaan teknologi pun ikut andil dalam koperasi mulai dari pencatatan menggunakan microsoft excel hingga group whatsaap sebagai media koordinasi. "Sudah biasa menurut warga Kota namun menjadi hal baru untuk warga Desa" ujar teman saya.
Kedua, menjalankan simpan pinjam dengan perhitungan biaya administrasi, bagi hasil dan bunga flat yang tidak memberatkan anggota. Manajemen pengolahan keuangan yang sudah diterapkan koperasi wahidyah Desa Purwoasri yaitu sebagai berikut :
a. Peminjaman uang sebesar Rp. 1.000.000 maka akan di potong biaya administrasi sebesar  Rp. 25.000. Pembayaran dilakukan rutin selama 10 bulan dengan angsuran Rp. 110.000 perbulan. 
b.  Simpanan pokok anggota baru hanya Rp. 25.000 dibayar sekali selama menjadi anggota. Simpanan wajib hanya Rp. 5.000 perbulan. Ketika tutup buku akan dibagikan keuntungan dari sisa hasil usaha secara transparan kepada seluruh anggota. 
c. Pengurus mendapatkan imbalan berupa persentase dari Sisa Hasil Usaha yang sudah disepakati dalam Rapat Anggota Tahunan. 
d.  Terdapat arisan anggota setiap bulan. Setiap anggota yang mendapatkan arisan akan dipotong sebagai pemasukan koperasi sesuai yang sudah disepakati seluruh anggota 
e.   Mengikuti pameran dan expo koperasi. Pengurus koperasi bertanggung jawab untuk sewa stand dan keuntungan akan dibagi antara koperasi dan anggota yang menjual produk. 
Ketiga, inovasi koperasi dagang mulai digerakan. Membuka usaha sebagai pemasok gas LPG dan air galon lalu para angota menjadi mitra atau reseller dari koperasi. Kedepannya diharapkan akan ada pengelolaan peralatan dan perlengkapan pertanian sehingga kebutuhan pertanian terutama pupuk untuk anggota yang berprofesi sebagai petani dapat tercukupi dan program kemitraan terus berjalan dari usaha kecil hingga menengah.

Walaupun penerapan sistem dan terobosan baru koperasi sudah dilakukan bukan berarti generasi milenial tidak menemui hambatan namun semua bisa terus berjalan karena generasi ini memiliki kemampuan yang tidak dimiliki generasi lainnya. Nah apa saja itu ? dikutip dari artikel IDN times tentang milenial 10 Ciri Dasar Generasi Milenial ternyata ciri-ciri generasi milenial sangat cocok jika ditempatkan dalam organisasi atau kelompok masyarakat seperti koperasi. 
Lebih memilih pengalaman daripada asset. 
Ciri yang menggambarkan generasi milenial  lebih suka menghabiskan uang untuk mendapat pengalaman tertentu dibanding menabung. Bagi saya sebagai milenial dengan bergabung sebagai pengurus atau anggota koperasi selain mendapatkan pengalaman baru, milenial semakin tertarik mempelajari bagaimana cara untuk mengolah aset terutama  mengolah keuangan secara bijak. 
Kritis terhadap fenomenal sosial. 
Sebagai generasi yang menghabiskan banyak waktu untuk mencari informasi tak heran jika milenial lebih aktif untuk beropini bahkan ketika terjun di koperasi, teman-teman saya aktif memberikan ide dan membahas issue permasalahan koperasi di Desa.
Jago Multitasking
Milenial ternyata sangat jago jika disuruh melakukan beberapa tugas bersamaan. Pekerjaan koperasi di Desa hanya dikerjakan beberapa orang saja dalam mengkoodinir satu kelompok koperasi padahal mereka juga bekerja ditempat lain setiap harinya tetapi hal itu bukan menjadi penghambat bagi kinerja teman-teman saya di Koperasi. 
Bagi milenial "Sharing is Cool"
Yes. ini memang paling benar ! Saya melihat teman-teman saya enjoy dalam berbagi pengetahuan dan membantu secara sukarela. Pertemuan pengurus dan anggota rutin dilakukan karena anggota generasi milenial aktif berdiskusi bersama sehingga bonding antara pengurus dan anggota lebih bisa dirasakan. 

Kita patut bangga generasi milenial sudah ikut berjuang dan peka terhadap permasalahan sosial. Ternyata koperasi dan generasi milenial yang awalnya dianggap remeh namun sekarang bisa memberikan daya bagi peningkatan ekonomi Desa. 
Terimakasih untuk Dyah Ayu dan teman-teman turut andil dalam kemajuan ekonomi. Jika mereka bisa, kenapa kamu tidak? Ayo berdaya mulai dari sekitar kita !

Tonton juga : Pameran Expo Koperasi Wahidyah 2019