Thursday, 6 February 2020

Kata Erich Formm


"Kik kamu buru-buru nggak? Kita lihat pameran wedding dulu ya" 

Ceritanya hari ini dadakan ketemu ahidza, terakhir kita ketemu sekitar 2 bulan lalu di acara pernikahannya. Sore tadi mumpung ada kesempatan ketemu, aku tanya tips nyusun konsep wedding dan milih vendornya. Such get a new learning about married concept yang gratis dan sangat berguna sekali sih, meskipun belum tahu kapan akan digunakan 😂

Pas banget di lantai bawah mall ada pameran wedding organizer. Diajaklah aku turun buat ambil brosur tiap vendor sebagai amanah titipan teman yang insyaallah akan menikah tahun ini. Pastinya doi udah luwes banget buat minta brosur dan jelasin ke beberapa pihak vendor kalau yang mau nikah itu temannya bukan dia, tetapi aku. Amiin. Haha

Dulu ketika mendengar soal pernikahan yang pertama kali terpikirkan oleh diriku adalah siapakah jodohnya, siapa yang akan menjadi objek untuk aku cintai.

Sampai akhirnya aku menemukan banyak pencerahan dari kutipan buku The Art of Loving, Erich Formm. Kemudian dijelaskan melalui kajian filsafat tentang cinta oleh Dr. Fahruddin Faiz.

"Banyak orang sering mengartikan cinta seperti rasa suka kepada sesuatu dan sifatnya kebetulan. Makanya kenapa ada istilah jatuh cinta"

"Cinta tidak seperti itu, Cinta itu bukan siapa yang kamu cintai tapi bagaimana cara kamu mencintai"

"Cinta seperti seni, kamu harus tahu teorinya kemudian prakteknya. Maka fokuslah bagaimana mencintai yang baik dan benar"

Lalu...

"Kamu gak usah capek-capek nyari yang cocok untukmu, berperilakulah sebagai pecinta yang akhirnya segala sesuatu layak untuk dicintai, gak cuma lawan jenismu yang satu itu"

"Bukan falling in love but standing in love"


Kemudian...

Aku teringat kata Erich Formm yang pernah aku baca disebuah medium "Cinta adalah tindakan keyakinan, dan siapa pun yang kecil keyakinannya, kecil juga cintanya"

Akhirnya...

Semenjak itu, aku putuskan untuk yakin saja.