Thursday, 10 December 2020

CERPEN : SEBUAH KEJUJURAN

Aku ingin mengucapkan selamat sebab akhirnya paket ini datang. Datang setelah adanya puluhan pemikiran dan banyak keyakinan, yakin saja jika akan diterima dengan baik. Isinya mungkin saja sebagai bentuk dari banyak hal yang tak bisa dilupakan.

Penjaga ingatan mungkin saja kali ini tertawa melihat diriku terlalu bekerja keras untuk menghapus banyak file kenangan yang jelas-jelas selalu saja error saat dihapus. “ Di dunia ini kamu hanyalah sebagai user, sudah ikuti saja apa kata pemiliknya” Begitu katanya.

Bagaimana mungkin aku selalu teringat jika aku tidak menyukai pelajaran kesenian tempel menempel lalu aku ceritakan kepadanya tapi ternyata ia malah sebaliknya. Bahkan wajahnya yang berminyak saja bisa aku ingat, malam itu ia datang ke indomaret membeli facial wash yang sudah aku rekomendasikan. Hal sederhana begitu saja bisa membuatku terkekeh.

Mungkin saja aku terlalu lebay kali ini. Aku masuk ke sardo lantai tiga. Aku ingat-ingat lagi, dia lebih menyukai makan dengan sendok plastik supaya sekali pakai langsung bisa dibuang. Aku ambilah satu pack untuknya tapi “Ah .. ini mah gak mendukung ia jadi lebih baik,  nanti akhirnya jadi sampah juga” lalu lekas aku kembalikan satu pack sendok plastik itu di rak awalnya.

Suatu hari aku juga pernah keliling bazar buku, alih – alih ingin membeli buku untukku. Aku malah mengambil buku untuknya lalu membolak balikan isinya “ Buku apaan nih ada astronomi-astronominya” yaa kali nih orang bakal baca. Gpp beli saja buat nambah vocabulary dipikirannya sekalian menggantikan aku di hari-hari english daynya .

Kurang lebih begitulah yang aku pikirkan hingga akhirnya satu paket datang ke penerimanya. Ternyata benar juga kata mbah sudjiwo tejo jika berjuang nggak sebercanda itu, benar-benar aku pikir. Bahkan aku sudah siap dengan kemungkinan penerimanya akan ilfeel tetapi beginilah diriku yang nglakuin apa – apa mikirnya semikir itu.

Dulu juga aku pernah kecewa karena merasa tidak begitu diutamakan olehnya tetapi aku juga sadar ternyata ia lebih kecewa karena aku memilih menghilang saat di titik terendahnya.  Kali ini aku benar-benar dibuat sadar aku belum pernah berjuang dan melakukan sesuatu senothing to lose ini untuknya.

Jika dihubungan ini ia merasa insecure, sejujurnya aku malah lebih insecure dengan takdir atau nasibku sendiri sejak Bapak berpulang belasan tahun lalu. Sejak moment kehilangan aku lebih suka menulis karena orang lain tidak perlu melihat diriku yang mudah tersentuh dan menangis. Kadang aku menebak ia sudah bosan membaca email dariku yang terlalu panjang, kalau pun dibicarakan secara langsung mungkin saja aku jadi tidak jujur karena selain takut menangis, aku juga takut terlihat paling lemah. 

Kali ini aku menulis bagaimana sejujurnya diriku bukan untuk mendapatkan rasa simpati namun untuk jujur jika kejujuranku kalah jauh darinya, ia lebih jujur menceritakan momen kehilangan tanpa harus aku tanya. Pede sekali saat itu aku pikir bisa melindungi dirinya, nyatanya aku lebih lemah bahkan belum berjuang apa-apa saja aku sudah takut kehilangan dan kecewa. 

Jika saja ia tahu, aku baru berani menulis ini sekarang ketika aku baru saja selesai dengan diriku sendiri setidaknya kalau pun aku ditolak kita sudah sama-sama sarjana, malunya gak bakal malu-malu amat haha. Pernah waktu itu aku berpikir aku ingin membuktikan jika aku beda dengan seseorang di masa lalunya atau mungkin dengan yang sekarang ada disampingnya, tapi ya buat apa ? karena apapun yang ku selesaikan memang untuk perbaikan dalam diriku sendiri bukan untuk pembuktian kepada siapa-siapa.  

Apa pula ini aku menulis surat kejujuranku yang sudah jelas tidak pernah ku lakukan pada lelaki lainnya kecuali surat ijin tidak masuk sekolah atau kerja. Tetapi demi dia, aku lupa kata gengsi. Kata teman-temanku tak apalah biar pernah. hehe

Apa mungkin aku bisa jadi bagian ceritanya lagi setelah puluhan chat dan misscall yang tak terbalas sudah cukup mengganggu dunianya. 

“Bolehkah kamu mengijinkan aku untuk sekali lagi membuat kamu percaya jika aku benar-benar ingin menjadi bagian dari hari – harimu ? beriringan denganmu, menjadi rumah dan tempat pulang saat bahagia atau  pun saat dunia kita sedang tidak baik-baik saja.” Aku butuh jawaban sebagai closure dari cerita pendek ini.

Karena jika jawabannya tidak diijinkan maka aku akan sadar ternyata cerita ini hanya ada satu orang yang berjuang. Jika jawabannya diijinkan olehmu berarti selama ini intuisiku sudah berjalan ke arah yang benar.

No comments:

Post a Comment

Tuliskan komentar