Wednesday, 16 August 2017

Perjalananan Mengingatkanku..



Terminal Ubung, 11 February 2017.


“Pak saya sudah janji dengan teman saya disini” kalimat saya dengan suara tertahan di tenggorokan. Serak kekurangan air sejak pagi.
“Bruuaak” tangan bapak angkot menggebrak meja dengan air botol 1,5 liter pas ditengah meja antara saya dan teman saya. Kembali saya dengarkan kalimat paksaan yang sudah berulang kali saya dengarkan semenjak 30 menit lalu memutuskan duduk didepan Circle K.
Tangan saya mulai sedikit bergetar membuka aplikasi Uber di Handphone. Saya terhimpit karena wajah seram kedua bapak ini hanya mengincar wajah saya yang hampir dicakar-cakar. Teman-teman saya melihat dan berharap ada pertolongan.
Setidaknya pada hari itu saya sudah melakukan 3 hal bodoh diperjalanan saya.
Pertama, kebodohan yang sudah tertanam diwajah saya ntah sejak kapan. Wajah tanpa dosa sok berani saya ketika berbicara kepada sopir angkot ternyata malah jadi boomerang saya sendiri. 

Ibu saya selalu bilang ke adik laki-laki saya dirumah. " Ajak mbakmu aja soale mbakmu mesti lebih berani ngomongnya. Ndang mbak anterin adekmu " Kalimat ini tak berubah semenjak adik saya masuk TK hingga sekarang ia sudah semester 5 diperkuliahan. 
Tapi bagaimanapun juga bukan hal yang tepat untuk menjawab dan berbicara kepada dua sopir angkot ini, yang ada mereka malah makin marah.

Yaa Tuhan maafkan hambamu, beri petunjukmu. Keluarkan hambamu dari sini lewat perantaramu. Doa saya siang itu. Toh apa yang harus disesali, dalam kondisi apapun menjadi perempuan tetap harus kuat. Minta bantuan Tuhan adalah jawaban yang tepat. Setidaknya hal bodoh ini membuatku mengingat aku punya Tuhan.

Kebodohan yang kedua pada perjalanan hari itu. 
Bukan saja saya sok berani sehingga mengudang ketertarikan mereka untuk mengajak duel. Hanya saja sama halnya dengan lelaki lain yang tak suka dengan penolakan. Mereka pun menolak untuk menyadari jika harga angkotnya tidaklah wajar.
Apalah kami pontang panting kerja untuk liburan tetap saja hanya bisa dengan budget minim. Saya baru sadar betapa bodohnya saya waktu itu, saya malah turun persis di depan angkot nge-tem. Seharusnya saya bisa turun sebelum terminal mencari tempat yang jauh.
Buka aplikasi Uber, naik , adem , nyaman dan yang pasti murah haha. Craps ! bentakan rewel mereka pas disebelah kanan telinga saya membuka lamunan saya kembali. Tapi lagi lagi saya nggak mau nyesel. Toh saya juga nggak tahu akan runyam seperti ini terlebih layaknya seorang perempuan yang berpikir jangka panjang. Suatu hari hal ini pasti akan berguna. Teman - teman saya yang akan pergi ke tempat yang sama tidak boleh mengalami hal yang sama.

Mencoba mengingat satu hal bodoh lagi pada hari itu. Menolak preman dengan ramah dan pura -pura tidak tahu akan pergi kemana salah satu hal paling bodoh yang pernah saya lakukan. "Preman kamfret" hardik saya dalam hati. Kalau saja saya tidak ingat kapal akan berangkat mungkin saya biarkan liburan saya di Circle K sampai besok. Biarkan, toh perempuan selalu tidak mau kalah. Namun saya tak begitu adanya, saya ingat teman-teman yang ingin sekali membuang penat. Saya turunkan kalimat-kalimat saya seperti menghadapi preman kantor. Deal ! Kita berangkat naik angkot yang sudah dinego sampai jongkok harganya tetap 2X lipat lebih mahal dari pada Uber ataupun Taksi. 
Saya nggak nyesel keluar uang lebih. Kenapa ? karena waktu turun malah saya lebihkan lagi ongkos angkotnya. Tiba - tiba waktu itu saya jadi sok sabar ketika mengingat cerita novel ''99 Cahaya dilangit eropa'' dimana seorang pasha muslimah cantik jelita asal turki yang diperankan oleh Raline shah *Hatsah* membalas orang-orang yang membicarakan keislamannya dengan membayar tagihan makan mereka disuatu restaurant.

Rasa emosi tidak harus dibalas membentak balik tapi mungkin kita bisa melakukan sebaliknya. Saya lega bisa melakukannya yang membuat mereka meminta maaf kemudian meminta nomor handphone saya untuk di save barangkali ketika kami pulang perlu dijemput.

''Fix gak mau ''  Saya balik meminta nomor Handphonenya dengan alasan setelah itu akan saya misscall - sampai tulisan ini dibuatpun tidak pernah saya hubungiLumayan sebagai kenang - kenangan perkenalan kami. hehe


PS : Cerita ini saya persembahkan dalam rangka menulis bersama @NyincingDaster dengan tema #3HalBodohYangTidakAkanKuSesali

Monday, 14 August 2017

NUSA PENIDA : PERJALANAN SINGKAT KE PANTAI ATUH DESA BANJAR PELILIT

Semenjak saya posting beberapa foto saya di Nusa Penida Bali sering sekali banyak yang bertanya mulai dari letak Nusa Penida hingga bagaimana transportasi dan fasilitas disana :D

Well, nusa penida berada di provinsi Bali. Jika ingin kesana kamu bisa naik kapal ferry dari sanur dengan harga tiket sekitar IDR 75,000 - 100,000 .

You can read for estimate budget in Budget Ngepas Tapi Puas : Nusa Penida

After that, let's here I will share about Atuh Beach in Banjar Pelilit Nusa Penida. 

Sudah beberapa bulan lalu saya mengunjungi Nusa Penida Bali. Sumpah ! sampai sekarang kayaknya susah move on gitu haha 

Parah  bagus banget pemandangan disana meskipun harus ekstra hati-hati ketika mengendarai motor untuk sampai ke pantai. Nah , saat itu sebelum kembali pulang ke Sanur. Saya masih sempat mengunjungi Pantai Atuh di Desa Banjar Pelilit sekitar jam 9 siang. Lama perjalanan dari Homestay saya di toyapakeh ke pantai tersebut sekitar 3 jam.


Arah ke pantai Atuh kamu akan melewati jalanan aspal yang melilit ekstra curam, jalanan aspal tersebut tidak dapat diduga-duga kapan akan berbelok ke kanan ataupun ke kiri. Saya bahkan sampai menyalakan klakson tiap tikungan yang saya lewati :D


Sekitar 45 menit melewati jalanan aspal yang melilit. Kami sering bertemu dengan arah yang membingungkan dan jalanan batu kapur yang tidak rata. Sepertinya semua jalan menuju pantai di Nusa Penida memang menjadi suatu tantangan tersendiri bagi pengunjungnya karena medan yang dilewati masih cukup sulit dilalui kendaraan bermotor apalagi kendaraan beroda empat.


''Kik naikin kakimu ke atas. Awas terkilir bebatuan'' teriak teman saya dari belakang ketika saya meluncur mengendarai motor dari atas.
Jalan curam menuju pantai berulang kali kami lalui dengan ekstra hati - hati terkadang kami berhenti sejenak untuk melihat jalan apakah aman untuk kami lewati.



Sampai diparkiran kita hanya perlu membayar IDR 5,000 / orang dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk turun ke pantai atuh. Jalanan membelah menjadi dua antara pantai atuh dan nusa pelilit. Sebelah kanan nusa pelilit dan Sebelah kiri pantai atuh yang bisa kita nikmati bersamaan !


''Pak turun ke bawahnya curam tidak  ?'' Tanya kami.

''Ada tangganya kebawah, cuma 225 anak tangga'' jawab si bapak dengan bergurau.


Karena sudah nanggung akhirnya kami turun perlahan tanpa pengaman apapun. Kebayang angin begitu kencang rasanya seperti ingin terdorong kebawah dan ombak pantai atuh dibawah sudah siap menompang :D

Tidak ada siapapun di pantai ini hanya kami berempat yang tidak sabar untuk turun sambil bergurutu bagaimana naiknya nanti.



Setelah puas bermain, siang itu kami kembali ke Toyapakeh jam 11 siang dan bergegas ke pelabuhan Toyapakeh untuk kembali ke sanur. Saya kembali ke sanur dengan menaiki Kapal Ferry Maruti Express paling terakhir sekitar jam 3 sore dengan harga tiket IDR 75,000.

Fyi, tiket  harus reservasi terlebih dahulu sehari atau beberapa jam sebelum keberangkatan sesuai dengan ketersediaan seat. Biasanya homestay di Nusa Penida akan membantu reservasi tiket pulang.

Berharap someday bisa balik ke Nusa Penida dan menginap di dekat pantai Atuh.
Yakin nih kamu ndak pengen jalan-jalan ke Nusa Penida ? :)