Thursday, 26 July 2018

Menu Spesial Khas Solo : Sate Kambing Favorit Jokowi




Sate Kambing Bu HJ. Bejo


Sekitar jam 9 pagi saya berjalan kaki dari hotel di daerah dekat keraton ke arah pasar Klewer untuk menyantap Tengkleng Kambing Bu Edi . Ketika sudah berada disana tiba-tiba ada bapak tukang becak yang menawarkan untuk mengantar kami ke Sate Kambing Bu HJ. Bejo langganan Pak Jokowi.  Gak ada alasan buat nolak sih karena waktu itu saya juga pengen naik becak keliling solo 😂

Kita naik satu becak buat 3 orang. Haha 
"Ini 3 orang gpp pak ?" ~ Tanya saya 
"Gpp mbak. Mari saya antar ke Sate Kambing Bu Bejo.  Enak banget disana kurang lengkap kalau kesini gak nyoba satenya" Kata bapak dengan logat jawa kentelnya.
 

Warung yang beralamat di Jalan sungai Sebakung Kedung Lumbung Pasar Kliwon Surakarta ini termasuk 20 Kuliner pilihan Kota Solo yang memiliki berbagai menu dari Sate Daging , Tengkleng, Gulai, Daging Buntel dan olahan daging kambing lainnya. Rasa tengkleng dan sate kambing yang saya coba dijamin enak.  Gak nyesel pokok e wes mampir mrene. Ancen selera Pak Jokowi mantap tenan kok. Hehe

Sate Kambing Bu HJ. Bejo

Harganya dan rasanya cukup worth it. Bener - bener gak pelit ngasih daging sepiring penuh.  Satu piring penuh lebih banyak daging dari pada tulangnya. :D
Belum lagi rasanya banyak rempah-rempah yang dimasukan. Ada varian dua tengkleng yaitu tengkleng biasa dan tengkleng masak.


Pas banget menu ini buat yang lagi darah rendah bisa langsung naik tensi darahnya. Tapi No yaa buat yang punya kolestrol tinggi *sadardiri
Untuk seporsi tengkleng dan Sate Kambing bisa untuk 4 orang masing-masing IDR 45,000 / porsi (belum nasinya)
        
Tengkleng Kambing Masak
Cuaca Solo yang panas memang paling pas kalau makan minuman yang dingin dan makanan dengan kuah yang segar. Saya Penasaran pake banget rasa Mie Thoprak legendaris khas Solo. Agak bingung juga waktu menuju warung Mie Thoprak dan Es Dawet Pleret di Jalan Dr. Wahidin Laweyan. Waktu itu kita naik Go-car dan turun di masjid tegalsari kemudian kita berjalan kearah pertigaan dan belok kiri ternyata kita salah alamat guyss. Baru sadar ketika balik lagi warungnya pas disebelah masjid tegalsari kiri jalan didepan sungai kecil. Haha


Warung Makan Mie Thoprak & Es Dawet Gempol
Es dawet Gempol Pleret


Enak banget dawetnya. Ketika order es dawet akan ditanya sama penjualnya mau pakai pleret atau dawet biasa aja. Pleret itu terbuat dari tepung sagu bulat-bulat ada yang warna putih dan coklat.  Siang itu coklatnya sudah habis akhirnya saya iyain aja tawaran penjualnya pakai tambahan yang ada karena belum tahu rasanya gimana :D

Rasa manis es dawetnya cukup dan tidak memnuat cepat bosan. Cocok menjadi pelengkap Mie Toprak siang itu.

Mie Thoprak
Ini dia penampakan Mie Thoprak yang segar dan rasa kuahnya hampir mirip kuah bakso. Seingat saya campurannya banyak banget tapi cocok kalau dicampur , isinya ada bihun , irisan kol, daun bawang, kacang, tahu , daging , tauge , cakwe dan daging. 😂
Seporsinya hanya IDR 11,000. Termasuk murah untuk semangkok penuh mie Thoprak yang ada dagingnya. Sambil nulis ngliatin gambar Mie Thoprak jadi kepengen lagi kan saya traveling ke Solo terus siang - siang makan semangkok Mie Thoprak lagi hehe

Disini bukan cuma jual Mie Thoprak saja. Tapi ada sop matahari, Sop Galatine dan Ayam Kampung. Lengkap banget dalam satu warung uda bisa nyoba hampir semua makanan khas Solo. Yang pasti harga makanan diwarung ini sangat terjangkau , enak dan bikin dateng kedua kalinya.

Solo makanannya emang terbaaaik. Serius !😂

Setelah dari Mie Toprak saya langsung cus melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta bersama dua teman saya.

So. I wait your culinary story in Solo ya guyss ! See you in Yogyakarta :)

Menu Warung di Mie Toprak

Thursday, 19 July 2018

Ranu Kumbolo : Mendaki Ketika Hujan


Tahun ini akhirnya berani medaki ke gunung juga walaupun baru ke Ranu Kumbolo di Gunung Semeru. Sebenernya sudah dari tahun lalu pengen banget ke Ranu Kumbolo cuma karena belum ketemu temen dan tanggal yang cocok akhirnya gak berangkat-berangkat. ngeles haha
Seneng banget ketemu sama temen yang seru buat pertama kali hiking ke Ranu Kumbolo dengan bawa barang yang lumayan banyak ( note: barang yang saya bawa gak banyak-banyak banget) karena tas keril saya dibawa temen dan saya bawa barangnya dia yang seuprit. Mungkin cuma 30 liter aja dibanding tas saya sekitar 60 liter yang bisa dimasukin tenda juga.



Tanggal 23 Juni 2018 akhirnya kita berenam berangkat ke Pos 1 di Ranu Pani siang hari. Jadwal yang sudah diatur berangkat pagi kacau karena kurang peralatan ini itu dan dokumen yang memang harusnya sudah lengkap tapi masih aja ada yang kurang. Di kantor pendaftaran Ranu Pani kita  bak mahasiswa yang bolak - balik fotocopy dan ngeprint untuk revisi TAPI gak perlu risau di Ranu Pani ada tempat buat ngeprint dan fotocopy. Btw buat nge-print satu lembarnya goceng dong. Gila bangkrut gak tuh kalau deket kampus segitu. 

Yaudalah skip aja gimana rasanya revisi dan duit berapa aja dibayar asal kita bisa berangkat ! (Padahal cuma goceng )
kemudian kita baru jalan jam 4 sore ke Ranu Kumbolo setelah briefing dan persiapan lain-lain. 

Ada 5 Pos yang kita lewati. ~ 

Dari pos 1 sampai sampai pos 2 masih aman mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera bersama teman-teman bertualang *hehe karena sore itu pencahayaan masih cukup baik. Ketika dari pos 2  selanjutnya hujan mulai turun dan deras. Drama hujan, gelap, jalanan jadi licin dan akhirnya kepleset bener-bener terjadi. Perosotan pun akhirnya saya lalui dari pada terpeleset dibukit yang curam. Kejadian ini sangat tidak direkomendasikan untuk hiking malam hari dan lebih baik istirahat di pos kemudian melanjutkan besok pagi. 

Sampailah kita didepan danau ranu Kumbolo jam 11 pm dan baru selesai mendirikan tenda sekitar 1 jam. Drama tidak selesai disitu tenda dan rumput yang basah makin menambah suhu terasa dingin. Suerrrr beneran dingin banget ! Sampai sleeping bag gak bisa menahan dinginnya, apesnya sleeping bag temen saya sudah basah karena terkena rintikan hujan ketika dijalan akhirnya kita bertiga dempet-dempetan duduk sambil selimutan sleeping bag yang masih kering dan nelen antangin terus-terusan untuk menghangatkan badan. 


Ranu Kumbolo : Pemandangan pagi hari setelah hujan


Paginya beneran bela-belain keluar dari tenda, setelah lihat pemandangan yang ada didepan tenda pas seketika lupa rasanya dingin.  Febe temen saya masih nggak mau beranjak dari sleeping bag akhirnya saya keluar bareng cecil untuk bejalan-jalan disekitar shelter Ranu Kumbolo. Ditengah jalan menuju ground camp Ranu Kumbolo sandal gunung saya lemnya copot karena terlalu banyak terkena genangan air. Siaaal. Emang dasar uda minta ganti sih ini sandalnya haha Sandal gunung copot ini yang buat saya dan cecil batal ke oro-oro ombo. Fyi di oro-oro ombo banyak tumbuh dan bermekaran bunga verbena yang berwarna ungu tapi bukan lavender ya. Makanya banyak pengen mampir kesini untuk sekedar menuhin isi galeri.

Ketika briefing saya sempat mendengar kalau bunga ini katanya menyerap banyak kadar air dan mematikan tumbuhan disekitarnya termasuk bunga edelweis. Dulu sempat boleh dipetik supaya membantu mengurangi pertumbuhannya tapi akhirnya sekarang gak bolek lagi karena cara memetik para pendaki yang ngawur meskipun sudah di briefing bagaimana cara memetiknya. 
Ranu Kumbolo : Dibelakang shelter banyak bunga verbena

((Maaf ya cil cecil batal ke oro-oro ombo cuma karena sendal gue yang copot)) tapi dia gak jadi sedih karena dibelakang shelter banyak bunga verbena. kwk

Untungnya waktu pulang gak kehabisan ide gimana cara baliknya kalau sendal gunung copot. Akhirnya saya tali tuh sandal pakai tali rafia yang nemu di tong sampah ground camp dan aman sampai balik ke POS 1 hahaha. 

Ranu Kumbolo : Shelter diantara bukit-bukit

Ranu Kumbolo : Andalan ketika dingin , Mie Rebus dan So nice



Ranu Kumbolo : Bongkar tenda dan membawa pulang sampah
Total budget yang saya habiskan untuk ke Ranu Kumbolo sekitar 150,000 / orang. Itu sudah termasuk  dengan biaya registrasi 17,500 / hari dan (perlengkapan + konsumsi) yang kelompok saya bawa dari rumah. Ketika sudah di Ranu Kumbolo , kami menyisakan banyak mie dan kopi instan dan akhirnya kami bagi-bagikan ke kelompok lain yang ingin melanjutkan perjalanan ke Kalimati dan Mahameru.

"Bagiin aja mie instan sama kopi nya biar lebih enteng tasnya" kata teman saya
Kelompok lain pun menyambutnya dengan senang dan hangat.
Indah ya ternyata berbagi di Gunung itu, berbagi perhatian apalagi ..... haha

Jika berencana kesini pastikan kesehatan kamu benar-benar fit dan membawa perlengkapan secukupnya yang memang kamu perlukan. Jangan sampai terlalu banyak beban dan akhirnya merepotkan teman-teman kelompokmu.
Bawa beban sendiri sudah berat jangan sampai nambah-nambahin beban orang lain :D