Friday, 24 August 2018

Dieng Culture Festival dan Menjelajah Dieng


Perjalanan Sore Menuju Dieng Plateu menggunakan Bus Umum


Sore itu cuaca dieng sedang cerah. Terlihat pemandangan perkebunan dari balik kaca bus yang saya tumpangi. Mendengar dari kernet bus jika cuaca dingin sedang ekstrim. Sesekali kernet bus mendekap badannya sendiri. Atribut yang digunakannya sudah lengkap dengan jaket tebal, kupluk, sarung tangan dan syal di lehernya.


Turun dari bus tepat di pertigaan jalan raya Dieng mulai terasa hawa dingin yang tidak bisa ditahan. Jalanan mulai ramai dengan rombongan yang siap memadati dieng untuk gabung di Dieng Culture Festival.

Seporsi cilok yang diletakkan di gelas plastik yang bisa menyelamatkan bekunya jari sore itu.  Waktu itu saya masih menggunakan kaos dan outer tipis ingin rasanya segera masuk ke homestay yang berada tepat didepan saya. Homestay Dieng Plateu seharga 250,000/malam ntah harga ini hanya khusus untuk DCF saja atau memang harga aslinya. Yang pasti saya mendapatkan penginapan ini dari hasil browsing dan menghubungi pihak homestay langsung karena waktu itu semua homestay di berbagai website booking hotel sudah penuh. Beruntungnya hari itu masih ada 2 kamar kosong untuk kami berempat.



Sarapan Pagi di Dieng 


Esoknya tepat di depan  Homestay Dieng Plateu terdapat berbagai penjual makanan. Penjual kentang dan jamur goreng yang paling banyak saya temui di daerah wisata dieng. Irisan kentangnya tebal digoreng langsung tanpa tepung. Kentang goreng pun terpilih menjadi makanan favorit saya untuk 3 hari Dieng 😁

Telaga Warna Dieng 


Tiket DCF seharga 350,000 sudah lengkap dengan free masuk di kawasan wisata telaga warna dan kawah sikidang. Siang itu saya tidak mau free tiket terbuang sia-sia akhirnya saya memilih mengujungi wisata Dieng dan meninggalkan acara pagi itu.



Batu Ratapan Angin Dieng 


Batu ratapan angin berada di atas telaga warna. Dari atas sini kamu bisa lihat hamparan perkebunan pertanian dan telaga warna yang hijau. Cukup ngos-ngosan untuk mendaki batu ratapan ini namun tidak setinggi yang saya bayangkan 😅

Efek pulang dari ranu kumbolo saya merasa batu ratapan punya trek yang cukup mudah *sok-sokan. Setengah jalan sudah bervaping dan lengkap dengan anak tangga. Selebihnya hanya jalan setapak yang cukup mudah diakses namun sangat berdebu ketika musim kemarau.


Kawah Sikidang Dieng 

Satu tiket free yang terakhir yaitu Kawah Sikidang. Bau belerang sangat terasa di kawah ini jadi siap siap bawa masker ya guys !

Kalau ke kawah sikidang apalagi yang menarik perhatian pengunjung kalau bukan penjual telur. Alat pancingnya buat ngrebus telur dibelerang ya bukan untuk mancing telur apalagi mancing ikan hehe

Ada telur bebek, telur puyuh dan telur ayam kampung. Ada khasiatnya nggak untuk menyembuhkan apa? Tanya pembeli
Kata penjualnya hanya untuk menyembuhkan rasa penasaran aja. Haha

Saya cuma ngliatin ibunya berjualan dari pagar pembatas karena untuk membeli satu telur antriannya panjaaaang. Banyak pengunjung yang sudah tidak sabar menunggu telur mereka matang sesekali bapak penjual telur mengecek dengan mengangkat pancing dan melihat apakah telurnya sudah matang.



Senandung di Atas Awan 

Yang paling saya tunggu-tunggu di acara Dieng Culture Festival malam itu pagelaran musik Senandung di Atas Awan. Banyak sekali guest star yang bersenandung malam itu dan panitia juga menyiapkan lampion untuk kami terbangkan malam itu. Rasanya tiap ketemu lampion mau balik lagi dan lagi haha

Saran buat panitia DCF tahun depan waktu lampion diterbangin dikasih backsound musik yang pas bukan gurauan presenter yang tidak karuan karena malam itu penerbangan lampion seperti menjadi puncak acara yang ditunggu-tunggu pengunjung.

Oh iya satu lagi. Panitia harus sering mengingatkan pengunjung untuk membawa sampahnya pulang apalagi bekas-bekas lampion yang tidak bisa terbang karena kawasan yang digunakan dekat dengan Candi Arjuna.




Indah banget lampion dan kembang api malam itu. Suatu hari kalau ada kesempatan kembali saya pasti datang untuk menikmatinya kembali.

Prosesi pemotongan rambut anak gembel
Dihari ketiga atau terakhir dari serangkaian acara Dieng Culture Festival yaitu prosesi pemotongan rambut gimbal.

Banyak sekali pengunjung yang tidak memiliki tiket berada diluar pagar pembatas candi Arjuna sedangkan saya bisa masuk dikawasan candi Arjuna hanya dengan menunjukkan tanda pengenal peserta Dieng Culture Festival.

Siang itu saya bersama ratusan pengunjung lain dengan khidmat mengikuti prosesi adat. Adik - adik yang memiliki rambut gimbal kompak menggunakan baju putih dan diantar oleh orang tua masing-masing.

Kamu tahu tidak?

Sebelum rambut gimbal mereka dipotong adik-adik bisa menyebutkan barang yang mereka inginkan dan harus dituruti loh 😅

Ada yang minta alat eletronik yang punya ada logo apelnya. Hayoo tebak apa? Haha
Ada yang cukup dengan es krim rasa strowberry, coklat dan mangga. Bahkan ada yang minta sebaskom ikan lele kwk

Banyak hadiah yang sudah disiapkan salah satu yang paling banyak sepeda yang berjejer rapi didepan kami. Batin saya tidak perlu bertemu presiden Pak Jokowi kalau ingin sepeda bertemu gurbenur Jawa Tengah saja sudah cukup hihi






Setelah acara ini berlangsung saya bergegas menuju homestay dan kembali ke Wonosobo naik bus umum lagi karena sore itu saya sudah janjian dengan travel yang akan mengantar kami kembali ke Jogja. Tiga hari yang menyenangkan dengan pengalaman dan wawasan baru.

Dieng Culture Festival diadakan tiap tahunnya. Jangan sampai ketinggalan untuk acara tahun depan ya 😀

Tuesday, 14 August 2018

Sehari di Yogyakarta kemana aja ?


Gudeg Mercon Bu Tinah 

source : oleholehjogja.biz

Sepulang dari Solo pukul 10 malam saya langsung berangkat ke Gudeg Mercon Bu Tinah dari stasiun Lempuyangan  ke jalan Jalan Asem Gede No.8, Cokrodiningratan, Jetis, Cokrodiningratan. Saya sebenarnya penasaran gimana rasa gudeg yang katanya pedas dan ramai sekali ketika malam hari. sesampainya sana memang benar-benar ramai dan antrian sudah panjang mengular. 

Ketika sudah mendapat antrian saya langsung memesan berapa jumlah porsi dan lauknya. Menurut saya termasuk mahal dibanding dengan gudeg lainnya dengan 1 porsi gudeg + 2 sate + 1 butir telur + 1 martabak sekitar 30,000 dan porsi nasinya sedikit. Menurut saya tidak se - worth it dengan menunggunya dan tidak begitu special karena rasa pedasnya bukan dari gudegnya namun dari tumis tempe seperti sambal. Namun gudeg ini bisa menjadi pilihan kalian ke yogyakarta untuk yang lebih menyukai rasa pedas. Siap - siap budget lebih banyak ya jika terlena dengan lauk pauknya :D 


Review lainnya bisa kamu tonton di youtube babang carlos yang cocok dengan gudeg satu ini di Gudeg Yu Jum vs Gudeg Mercon atau bisa baca artikel lainnya di http://oleholehjogja.biz/mengicip-gudeg-mercon-bu-tinah.html . Karena balik lagi semua soal seleraaa dan kamu harus nyobaa :p

Gudeg Mercon Bu Tinah
Pendopo Andari Yogyakarta

Hasil gambar untuk PENDOPO ANDRIANI YOGYAKARTA
Source : Booking.com
Saat menuju Pendopo Andari sopir Go-car yang kami tumpangi  kebingungan dimana letak gang homestay namun dipinggir jalan terdapat name tag pas di atas gang berwana hijau dengan tulisan " Pendopo Andari" 
" Oh itu mbak gangnya Pendopo Andari" Seru sopir Go-Car saat menemukan gang homestay kami.
Sesampai depan gang saya masih harus berjalan kaki beberapa meter dan menemukan tulisan pendopo yang mengarah ke sebelah kiri. Didepan pagar pendopo kami langsung disambut oleh Pak Dodik pemilik homestay. 
Saya booking homestay ini dadakan malam itu juga di www.booking.com dengan rate 200,000 / malam. Homestay yang sudah saya pesan sebelumnya harus di cancel karena tidak dapat menambah extra bed. Salah saya juga sih malam itu tidak konfirm sebelumnya jika saya berniat untuk extra bed. 
Pendopo Andari memberikan tambahan breakfast untuk 2 orang. Lumayan juga untuk ngirit cost hari itu dan breakfast yang disiapkan lebih dari cukup untuk 3 orang :D
Tidak hanya itu , pemilik homestay ini ramah sekali menyambut tamu-tamunya. Bahkan breakfast dibuatkan langsung oleh istri Pak Dodik. Kesan hangat saya rasakan ketika saya dan teman- teman saya sarapan pagi sambil bercengkrama dengan bu Dodik di teras pendopo. 
Pendopo Andari terletak di jalan Ibu Ruswo Prawirodirjan Godoman Kota Yogyakarta.  Jika ingin ke pendopo Andari kamu harus masuk terlebih dahulu disebuah gang kecil. Oleh karena itu homestay ini menawarkan suasana tenang seperti rumah sendiri dan nyaman karena tidak terdengar suara lalu lintas.  Saya tidak merekomendasikan homestay ini untuk kamu yang membawa kendaraan roda empat sendiri ke Yogyakarta. 

Pendopo Andari : Suasana ketika Malam 
Pendopo Andari : Ornamen di Pendop Andari


Sarapan di Pendopo Andari. Cost Room Include Breakfast

Pertigaan Pasar Legi Kota Gede




Siang hari setelah dari Malioboro saya melajutkan perjalanan untuk ke Kota Gede dan berjalan-jalan disana. Ternyata banyak tempat - tempat unik yang bisa kunjungi di Kota Gede. Mulai dari oleh -oleh chocolate Monggo , Masjid mataram , bangunan- bangunan kota Gede bahkan saya sempat membelikan oleh-oleh sepatu untuk ibu saya di Pasar Kota Gede.

Pasar Legi Kota Gede 







Gapura Masjid Mataram Kota Gede 





Coklat Monggo 




Banyak sekali tempat yang bisa kamu jelajahi di Yogyakarta. Bukan hanya alam, budaya namun sejarah dan bangunan-bangunanya yang bisa membuat kamu semakin tertarik untuk kembali ke Yogyakarta. Seperti saya , yang semakin suka dan berharap suatu hari bisa tinggal di Kota ini.

Terimakasih Yogyakarta satu harinya !