Thursday, 27 December 2018

Kenapa Yogyakarta ?

Dalam tahun 2018 ini ..
Sudah 4 kali ke Jogja, 


Kemudian isi dm social media penuh dengan asumsi dan pertanyaan kenapa aku sering ke Yogyakarta. 

Pertengahan tahun 2018 aku mulai memutuskan untuk lanjut kuliah dan masuk di semester genap. Ntah kenapa keinginan itu muncul setelah ku rasa cukup menghabiskan 3 tahun untuk bekerja dan mengejar apa yang ku inginkan. Menurutku pendidikan memang penting ntah digunakan saat ini atau masa depan tapi yang pasti ada tanggung jawab tersendiri untuk menyelesaiakan strata-1 ku ini. hehe 


Awalnya aku ingin pindah ke jogja tapi ibu minta aku kuliah di Surabaya atau Malang saja. 
Yasudah ku ikuti meskipun awalnya masih tetap memaksa bahkan aku sudah sempat mendaftar dan mengurus administrasinya sampai membuat planning bulan apa aku akan resign. Hahaha 

Yogyakarta. 
Klise ya orang bilang rindu jogja. Terlalu mainstream katanya. 
Ya tapi emang begitu adanya .. 

Oh yaa.. 
Aku lahir di Kediri tapi tak merasa lama tinggal disana belum terpikir untuk menghabiskan masa tua di Kediri pula. Nyatanya sekarang masih riwa riwi dan belum menetap. 

Aku masih ingin kembali ke jogja setiap aku punya waktu libur. Toh dari kosanku ke jogja hanya 5 jam dengan kereta yang hanya 70 ribu rupiah bukan suatu yang mahal untuk tiap bulannya kesana. 
Tapi apa yang sebenarnya dicari ? 
I feel my soul there .. Tiap di kereta dan pulang dari Jogja dan bercerita sudah kemana saja dengan orang disampingku kemudian seorang bapak nyletuk " wah uda sering nih kayaknya ke Jogja" atau bapak gojek yang bilang " semoga nanti punya rumah di jogja" lalu ku tertawa sambil mengaminkan. 

Sampai aku hafal bentuk terminal giwangan , stasiun Tugu dan lempuyangan. Dimana aku harus menunggu gojek. Dimana tempat yang enak untuk duduk-duduk saja. Aku merasa sudah tak asing walaupun ku belum pernah tinggal disana. 

Apakah impianku untuk kuliah dan tinggal disana hilang begitu saja ? Anggap saja belum rejekinya .. Makin tua sifat memaksaku sudah mulai hilang. Berusaha jika tanpa restu sepertinya tidak lega jadi kuputuskan untuk tetap kuliah dan mengunjunginya ketika ada tiket promo dan waktu luang karena pasti akan selalu ada kesempatan. 

Mau tinggal dimana saja tak apa , asal kita bersama. 

Saturday, 15 December 2018

BROMO TRIP BERSAMA KELUARGA CEMARA

Sunrise Point bukit kingkong




Malang.
Dini hari jam 00 : 30 saya bersama intan berangkat dari kantor lepas suntuk menaiki jeep berwarna putih yang di kendarai  oleh Pak Hendro untuk menjeput tamu lainnya di hotel mereka. Kami akan satu rombongan dengan 4 orang lainnya. Malam itu belum terasa dingin namun ketika jeep berjalan di jalanan Malang yang mulai senyap angin - angin malam mulai masuk dari celah jendela yang tidak tertutup rapat.

Kami bertemu dengan 4 orang lainnya dan mulai berkenalan. Ternyata kami satu rombongan dengan satu keluarga dan sahabatnya dari jakarta yang sedang liburan di Malang sehingga perkenalan kami cukuplah mudah. Hari itu saya berkenalan dengan  Tante Farida , suaminya,  Kak Vania putrinya dan sahabatnya tante Zura.

Saya dan intan memilih duduk dibelakang dan mulai tertidur pulas sebelum nantinya kami harus menanjak melihat sunrise dan kawah bromo. Di perjalanan saya masih mendengar dua sahabat yang bersemangat saling bercerita dan nostalgia yang mungkin sedang melepas kerinduan mereka.

Mata saya masih begitu ngantuk tak kala jam sudah menunjukan jam 02:30 pagi tepat didepan loket Bromo. Mobil jeep berhenti sebentar untuk mengantarkan rombongan ke toilet terlebih dahulu. Ketika pintu jeep tebuka udara makin terasa dingin. Ibu dan bapak penjual sarung tangan, syal dan kupluk bermunculan dari pintu depan , belakang dan jendela- jendela yang terbuka. Saya hanya bisa berdiam karena masih belum 100% sadar dengan keadaan.

Akhirnya Intan dan tante Farida tergoda untuk membeli kupluk yang sudah ditawar dengan harga yang mereka anggap murah Rp 15,000  padahal ketika berjalan di kios sebelum penanjakan sunrise harganya hanya 10,000 sudah harga pas dan tidak perlu menawar lagi. Penyesalan terlihat di raut wajah mereka berdua pagi itu hahaha

Banyak teman yang bilang jika musim hujan maka jalanan akan becek, berkabut dan sulit untuk mendapatkan sunrise. Dalam hati cuma bilang " Bodo amat mau dapet apaan yang penting ke Bromo dulu" hahaha

Ternyata cuaca cukup cerah dan sunrise indah banget pagi itu dipenanjakan bukti kingkong Bromo.

Bersama kembali ke mobil jeep

Siangnya kita diantarkan Pak Hendro melewati gurun pasir menuju kawah. Canda dan sorak tawa satu rombongan mewarnai perjalanan hari itu ketika Pak Hendro mengemudi jeep melewati gurun
dan melewati tanjakan. Seru banget ! kwk

By the way , kawahnya emang tinggi banget !
Awalnya jalan santai makin ke atas makin ngos-ngosan. Sebelum melewati anak tangga kita harus berjalan mendaki lebih dulu keatas gak heran banyak sekali yang menawarkan persewaan kuda. Makin dekat dengan kawah harga sewanya semakin murah dari Rp 150,000 hingga Rp 30,000.


Istirahat
Setelah mendaki kita masih harus melawati tangga kawah sebelum sampai diatas. Kita mencoba menghitung berapa jumlah anak tangga. Saya berhasil nenghitung 240 tangga, kak Vania 242 dan Papa Kak Vania sekitar 243. Kesimpulan dari kita bertiga anak tangganya sekitar at least 240 tangga 😁


Pasir Berbisik Gunung Bromo
Foto bersama rombongan open trip jeep putih :D

Bukit Teletubies Gunung Bromo


Bulan desember  bukti teletubies sedang hijau-hijaunya. Ku pikir mirip new zealand meskipun aku juga belum pernah kesana. haha

Sepanjang jalan beneran hijau sampai kita keluar dari Taman Nasional Gunung Bromo.  Kata Pak Hendro akan tetap hijau hingga bulan Maret tahun depan. 


Buruan deh kesini kalau mau nikmatin suasana bromo yang hijau. Let's go to the mount !