Saturday, 2 March 2019

SEBARIS KUE PANCONG

Apakah satu iris kue pancong yang manis belum bisa membuat rasamu baik-baik saja?

Jika belum kamu boleh ambil irisan lainnya hingga rasanya lega. Sambil melahap rasakan pelan-pelan taburan gula putih dan gurihnya santan semoga lekas membuatmu ringan.

Sesekali lihatlah bapak yang membuatnya, memikul beban kompor dan peralatan menemuimu membuatkan satu baris kue dengan senyum ikhlas dan menikmati pekerjaannya.  Sudah dua kali ini ku lihat ia mengecek adonan apakah sudah kering setelah beberapa menit dituang dalam cetakan.

lalu ia kembali menatap seraya bertanya " Apakah rasanya sudah cukup?"

Aku masih terdiam dan mencoba katakan dengan jujur.

---

Satu kue pancong bagai mantra menenangkan.  Rasa gurih dan manisnya terasa ke setiap aliran yang ada ditubuhmu. Kamu masih merasakannya , memilikinya, dirimu sendiri.

Jangan lagi takut kehilangan. Dia tidak akan lari jika memang adanya sudah tercipta disisimu. Bagai sebaris kue pancong yang tidak akan lupa gulanya.

Jangan lagi genggam erat apa yang bukan hak mu. Dia tidak akan pergi jika memang langkahnya mengikuti intuisi adalah kamu. Bagai sebaris kue pancong yang menempel satu sama lain.

Sudah percaya kah jika aku dan kamu suatu hari adalah satu jika memang sudah tertulis begitu.

--

Aku tetap terdiam melahapnya.