Wednesday, 5 February 2020

Pertama Kali Aku Galau


Masa tergalau pertamaku adalah waktu menginjak Sekolah Menengah. Dulu mau menangis sekarang mau ketawa aja kalau cerita. 

Dulu pas lulus SMP diminta lanjut ke SMK, ya dipikir abis lulus bisa langsung dapat kerja. Jadi anak-anak yang disekolahin mbahkung pasti dimasukin SMK semua, termasuk aku calon anak SMK pada saat itu. 

Ya aku mah iya iya aja. Penting lanjut sekolah lah. Pikirku polos dan gampang waktu itu karena belum tahu apa - apa juga.  

Yang awalnya polos jadi mikir pas pendaftaran, aku diminta daftar SMK jurusan tata boga. Biasanya kalau masuk SMK yang laki-laki pasti masuk STM, kalau perempuan masuknya di tata boga. Soalnya dua sekolah ini paling deket sama rumah. 

Lanjut, ntah gimana caranya pas udah di tempat pendaftaran dan beli formulir aku memutuskan gak jadi daftar karena aku baru mikir ntar misal mau kerja, aku kerja apaan trus kalau mau kuliah aku bingung harus kuliah apa. Padahal mau SMK apa aja masih bisa kuliah di jurusan yang beda. Anak masih umbelen di jaman itu gak kepikiran apa itu passion dan keinginan, yang ada cuma gimana ntar kedepannya biar gampang aja 😂

Akhirnya dengan mantap aku pindah ke SMK perkantoran, ambilah akuntansi. Belum tahu bentuknya gimana, ya pokoknya masih ada ekonomi-ekonominya. Setelah pengumuman tes, terbukti aku tidak lolos alias nggak diterima. Pengumuman hasil tes bertepatan dengan pendaftaran sekolah negeri tutup. Menangis ? Jelas. Hahaha

Besoknya aku langsung daftar ke SMK swasta yang nggak pakai tes. Tibaknya cerita nggak mandek disitu gaes. SMK ini kuota jurusan akuntansine wes full hanya sisa kuota jurusan pemasaran, aku tetap ngeyel ingin daftar dijurusan yang sama. 

Melihat wajahku yang mao nanges. Aku direkomendasikan daftar ke SMK yang masih satu yayasan hanya beda gang. Alhamdulillah jurusan akuntansi masih banyak kuotanya. Berasa lega akhirnya dapat sekolah. Wes sok-sok an milih jurusan terus nggak ktrimo, jebule aku milih sekolah sing sek bukak. Somplak ! 😂

Sekolahku masuk gang, dekat sawah hampir gak keliatan dari jalan raya. Aku bahkan baru  paham kalau disitu ada sekolah.

Sekolahku sekali daftar tinggal masuk saja gak pakai tes-tesan. Biaya pendaftaran dan bayar seragamnya sekitar 500 ribu sekian, sudah lengkap boleh nyicil. SPP perbulan cuma 55 ribu kalau dikali 3 tahun atau 36 bulan sekitar 2 juta masih kembali 20 ribuan. Setidaknya keluar SMK aku lebih cepat berhitung hal yang berkaitan dengan uang.

Hikmah lainnya:
Sekolahku lumayan murah, deket rumah dan ramah ( lingkungan). 


-----

Part #5
30 Hari Bercerita.