Friday, 7 February 2020

TEMAN DI DUNIA KERJA


Hari ini tepat 7 Februari 2020 jadi hari terakhir kita sekantor seoutlet. Aku ingin bercerita bagaimana rasanya ditinggalkan dan meninggalkan officemate alias gimana rasanya resign dan ditinggal resign lebih dulu.


Nah dalam dunia peresignan ini...

Setahun lalu, aku harus resign lebih dulu kemudian meninggalkan teman kerja di sebuah kota dan moment sepulang kerja. Kadang kangen juga gimana dulu seringnya makan di warung langganan, hangout ke mall awal bulan, naik motor bareng muterin jalan, nginep dan curhat dikosan hingga menghabiskan cuti bareng untuk kabur ke sebuah kota. Rasa-rasanya diawal memang  kehilangan tapi cepat terganti dengan hal dan challenge baru yang sudah jadi pilihan.

Lalu tahun ini aku merasakan hal yang terbalik bagaimana rasanya ditinggal resign padahal ini bukan pertama kali merasakan.

Bagaimana pun suasananya adaptasi di dunia kerja memang selalu harus cepat. Jangan samakan seperti kamu patah hati karena ditinggal seseorang lalu kamu berlama-lama tidak bisa move on, hal itu sama sekali tidak berlaku jika kamu sedang bekerja. Siapapun officematenya, se-enggak nyambungnya percakapan, tiap hari masih harus kerja. Bareng lagi. 

Dunia kerja memang keras karena kamu butuh uang tetapi kadang kamu juga butuh teman. Dilema 😂

Gak bisa dipungkiri. Officemate bisa jadi lebih dari teman kerja. Bayangin hampir 5x9 jam kita menyelesaikan masalah dan ngobrolin banyak hal. Mereka bisa jadi sahabat bahkan keluarga kedua, kamu sering terhibur bahkan sesekali bergantian menghibur.

Bagiku, punya sahabat di kantor itu berkah. Punya sahabat di kantor dan mereka bisa profesional itu yang bikin betah.

Balik lagi, namanya juga hidup. Selalu ada pilihan. Masa iya, officemate sekaligus sahabat kita memutuskan pilihan yang menurutnya lebih baik kita malah berkucil hati hanya karena takut ada yang hilang apalagi hingga tidak ingin beradaptasi dan menerima jika ada sosok officemate yang baru.


Makin tua sebenarnya kita akan semakin memahami jika manusia selalu punya pilihan dan keputusan penuh untuk dirinya sehingga ketika ada yang meninggalkan dan ditinggalkan lebih dulu di dunia kerja, kita akan lebih merasa siap dan cepat menerima hal baru.

Toh, sesungguhnya selalu ada kalimat bersliweran yang mengingatkan "Berteman di kantor itu secukupnya saja" petuah ini ternyata bukan karena kita takut tertikam tapi karena ternyata ditinggal teman resign itu benar-benar sedih adanya.

Akhir kalimat ku hanya ingin mengatakan.

"DUH TERUS SOPO IKI YANG MENDENGARKAN SAMBATANKU TIAP HARI LAGI?"

---
PART #6
30 Hari Bercerita.