Sunday, 18 April 2021

PERKARANGAN RUMAH JADI KEBUN SELAMA CORONA

Jika di rumah kamu ada lahan kosong dari pada ditumbuhi tanaman gulma lebih baik digunakan untuk berkebun, sama halnya dengan yang saya lakukan selama satu tahun terakhir dari awal munculnya wabah corona hingga sekarang alhamdulillah masih konsisten untuk berkebun menanam tanaman sayuran. 

Berkebun bukan saja mengisi waktu luang tetapi lebih dari itu, saya mengurangi pengeluaran membeli sayuran setiap harinya. Tanaman yang saya tanam mulai dari cabai, kemangi dan kangkung yang bergantian bisa dipanen dan dimasak. 

  Foto dokumentasi pribadi : Sawi daging dan daun bawang

Tidak hanya itu saya mencoba menanam tomat dan sawi daging, diluar dugaan hasilnya tumbuh dengan subur. Apalagi tanaman tomat yang berbuah lebat rasanya senang saat memetik buahnya dari kebun kita langsung. Modal dari berkebun ini sebenarnya sangat murah. Saya membeli bibit dari benih eceran di Pasar Bunga Splendid Kota Malang dengan harga Rp. 2000/packnya yang berisi puluhan hingga ratusan biji bibit tanaman. 

                                                    Foto dokumentasi pribadi : Biji tanaman ketika disemai

Foto dokumentasi pribadi : Kemangi

Kemudian untuk pupuknya saya menggunakan pupuk kompos organik dan cairan EM4 yang berasal dari kotoran hewan ternak. Saya membeli EM4 yang diproduksi sendiri oleh kebun aquaponik di Buring, Malang. 1 botol 600 ml cairan EM4 seharga lima ribu rupiah. Cukup murah bukan memanfaatkan lahan terbatas untuk melakukan kegiatan berkebun. 

Foto dokumentasi pribadi : strowberry

Foto dokumentasi pribadi : Tomat

Mungkin kamu juga bisa baca : SPLENDID PASAR BERSEJARAH DI KOTA MALANG

Kegiatan ini yang diperlukan dari awal adalah niat, apakah kita sudah siap untuk meluangkan waktu kita menjaga, merawat dan menyirami tanaman di kebun kita dengan sabar. Kemudian pemanfaatan lahan yang sempit bukan menjadi alasan karena jika kita bisa mengaturnya dengan baik maka tetap bisa dijalankan dengan menambah pot atau media tanam lain yang menjadi sumber kehidupan. 

Foto dokumentasi pribadi : Panen Kangkung

Foto dokumentasi pribadi : Panen Kenikir

Terakhir manfaat berkebun selain untuk menghilangkan stress selama corona, kita juga merasakan bagaimana manfaat alam langsung dari sekitar kita dan mengajarkan bagaimana kita menjaga alam sama seperti alam memberikan banyak hal untuk diri kita dan keluarga di rumah. 

Thursday, 1 April 2021

MENYAPA KADJA, CAFE DENGAN KONSEP PLANTSHOUSE DAN FLORIST DI SURAKARTA



8 Maret 2020, traveling terakhir sebelum datangnya pandemi yang tidak disangka-sangka. Kadja Coffee and eatery, plantshouse and florist menjadi salah satu tujuan untuk berteduh siang hari di Surakarta. Ditengok dari akun sosial medianya Kadja memiliki arti sebuah ajakan singkat melakukan apapun dengan energi positif. Dikatakan saat matahari bersinar cerah maupun ketika mendung menyapa. Hari itu cuaca Surakarta sedang panas-panasnya dan tiba-tiba turun hujan, lalu kadja menyapa sesuai dengan maknanya. 

Saya pergi kesana dengan bantuan traveloka yang memberikan rekomendasi dan pastinya abang gojek yang mengantar saya kesana. Alamat Kadja coffee berada di Jalan Moh. Husni Thamrin No.17 Manahan, Banjarsari. Surakarta. 

Pojok Kadja 

Beberapa pojok Kadja yang saya potret karena terlihat unik dan menarik berisi deretan bucket bunga kering ketika kita menyapa kasir untuk order makanan dan minuman. Kemudian konsep planthouse ketika berada diluar ruangan. Ternyata kita juga bisa beli tanaman seperti kaktus di Kadja. 



FLORIST


Tidak hanya itu, kita juga bisa order bucket bunga disini. Ada outlet kecil didalam Kadja yang khusus menyediakan bucket bunga seusai dengan request yang kamu inginkan. 

MENU KADJA


 
Karena sedang hujan saya order Mie Jawa kuah dan milk regal ice siang itu. Price menu di Kadja start dari 14,000. Selain ada Mie, menu makanan kadja termasuk variatif karena menyediakan ricebowl, spagetti dan snack. Soal minuman, tenang Kadja juga menyediakan berbagai jenis kopi dan teh. 



Pulang dari sini, tentu mampir ke warung tengkleng dan tongseng di Surakarta sebelum balik ke stasiun. Semoga masih ada kesempatan untuk kuliner di Surakarta lagi karena jujur saja vibe dari kota satu ini susah untuk dilupakan.